Membaca peta Terbesar semesta

Para astronom berhasil membuat peta kosmos terbesar. Tak
hanya informasi soal tempat, ada juga susunan alam raya.

"Jika demikian, di manakah letak Sukoharjo?" Itu sungguh pertanyaan
bercanda ketika BBC Online Network menurunkan artikel berjudul "Peta
Semesta". Di sana diceritakan bahwa para ahli astronomi telah berhasil
menciptakan peta kosmos terbesar. Sebuah peta tiga dimensi yang berisi
susunan alam semesta beradius 700 juta tahun cahaya. Atau sama
dengan enam juta juta mil. (Sayang tak disebutkan oleh BBC, berapa
ukuran peta ini?-red).

Tentu saja apa yang berhasil dipetakan tersebut sebuah medan yang
amat luas. Ruang lingkup manusia sendiri hanyalah sebuah fraksi kecil
saja dari alam semesta ini-yakni kurang lebih sepersepuluh ribu bagian.

"Hingga sekarang, inilah ukuran peta terbesar yang pernah dibuat," kata
Profesor Carlos Frenk dari Universitas Durham, Inggris, bangga. Ia adalah
salah seorang pembuat peta kosmis (cartoghrapers) tersebut. Pembuatan
peta itu, menurutnya, membutuhkan waktu tak kurang sepuluh tahun.
"Peta ini merupakan perwakilan dari seluruh kosmis," ujar Prof Frenk. Para
ilmuwan memang berpikir, mereka telah berhasil memetakan wilayah yang
merupakan representasi alam semesta.

Dengan menggunakan seluruh survei langit yang dikerjakan oleh Satelit
Astronomi Infra Merah (Infra-Red Astronomical Satellite atau IRAS), sebuah
tim ahli astronomi internasional memang telah memetakan posisi 15.500
galaksi. Mereka meletakkan benda-benda langit itu dalam sebuah peta tiga
dimensi dan menciptakan peta terbesar sepanjang masa. "Kami merasa
deg-degan waktu pertama kali mengeluarkan peta itu dari komputer," kata
Prof Frenk. "Kami tahu inilah peta terbesar dalam sejarah."

Gumpalan Hampa. Lebih jauh lagi, dengan peta ini, "Kita akan bisa
menjawab pertanyaan-pertanyaan mengenai alam semesta," janji Frenk.
Contohnya adalah hal berikut ini. Gambaran utama peta dahsyat tersebut
adalah berbagai supercluster (mega-gumpalan besar benda langit) galaksi
(yang menyusun alam semesta). Seperti dipahami, sistem bintang kita
terjadi dari gumpalan-gumpalan-mulai dari sedikit hingga ratusan-galaksi.
Nah, gumpalan-gumpalan itu mengelompokkan diri menjadi sebuah
gumpalan besar galastis yang bisa dilihat di dalam peta.

Para astronom sendiri amat tertarik pada kehampaan- kehampaan di
antara dua gumpalan yang ada. "Mereka benar-benar hampa," kata Frenk.
Menurutnya itu bukan galaksi yang benar-benar bebas, namun mereka
jauh lebih jarang dibandingkan dalam supercluster. Aspek yang penting
dari peta ini adalah rasio ukuran supercluster dan kehampaan. Hal ini
diyakini akan menjadi sesuatu yang fundamental dalam pembentukan
alam semesta.

Soal lain yang bisa diketahui adalah zat-zat pembentuk struktur alam
semesta. Karena, peta ini juga memasukan informasi mengenai
pengkodean zat-zat yang membentuk alam semesta tersebut. "Struktur
yang kita lihat terbentuk dari kekuatan yang penting dalam alam semesta,
yaitu gravitasi," cetus Frenk.

Gravitasi itu pulalah yang menentukan ukuran supercluster. Dari mana
gravitasi yang dimaksudkan itu? Konon ia datang dari "zat gelap" misteri
alam semesta. "Berdasar itu kami bisa menggunakannya untuk
menentukan apakah zat gelap itu seperti halnya nasib alam semesta itu
sendiri?" harap Frenk. Dari distribusi zat tersebut, para ilmuwan berpikir
bahwa alam semesta akan berkembang selamanya.

Peta terakhir. Berbagai ragam informasi macam itulah yang membuat
impian Frenk cepat melesat. Ia mambayangkan, suatu hari nanti peta
semesta itu akan digantung di setiap ruang belajar anak-anak. Dan jika itu
terwujud, diharapkan juga akan ada panah petunjuk ke arah pusat dari peta
dengan tulisan, "Di sinilah kita berada." (Tentu saja tidak lantas kita bisa
bertanya, "Jadi, di manakah wilayah Sukoharjo? --Red.).

Menurut para astronom, ini adalah peta terakhir dari jenisnya yang telah
(berhasil) dibuat. Dan dibutuhkan satu dekade lagi untuk membuat jenis
lainnya. Untuk itu, bahkan dibutuhkan sebuah survei langit infra-merah (IR)
yang mampu menjangkau lebih jauh-ketimbang IRAS-ke sudut-sudut
kosmis. Namun para astronom kini tengah mengkaji angkasa lebih
dalam lagi dengan petunjuk yang pasti. Sebuah proyek yang dikerjakan
Inggris dan Australia tengah menyusun posisi 250.000 galaksi dalam
sebuah peta langit kecil.

Pembuatan peta tersebut, agaknya, merupakan kemajuan berarti dalam
sejarah perpetaan sejak 200 silam. Waktu itulah untuk pertama kalinya
manusia menemukan planet lain di luar sistem solar kita. Dan, sejaksaat
itu para nenek moyang lantas memetakan posisi bintang terdekat dan
menemukan galaksi di mana kita tinggal.

Kuiper Belt Object

Apakah pluto benar-benar sebuah planet? Ini bukanlah pertanyaan yang mengada-ada. Memang sejak berpuluh-puluh tahun, baik para astronom maupun masyarakat awam beranggapan bahwa Pluto adalah planet ke-9 dalam tata surya kita. Namun demikian, sejak tahun 1992 pandangan tersebut perlahan-lahan mulai berubah ketika para astronom menyadari bahwa selepas orbit Neptunus terdapat sebuah daerah orbit dimana didapati sekitar 70.000 objek kecil, beku berbalut es yang bergerak lambat mengorbit matahari.

Sekumpulan objek yang mengorbit pada daerah yang kemudian dinamai sebagai Sabuk Kuiper Belt itu kemudian diberi sebutan sebagai Kuiper Belt Object (juga dikenal sebagai Trans Neptunian Object), mengambil nama seorang astronom Belanda-Amerika, Gerard P Kuiper yang pada tahun 1951 mempelopori gagasan bahwa tata surya kita memiliki anggota yang letaknya sangat jauh.

Akan halnya Pluto, objek yang belakangan diketahui memiliki satelit alam yang dinamai Charon ini kemudian menjadi ajang perdebatan diantara para astronom. Diantara semua planet anggota tata surya, Pluto memang memilki beberapa ciri yang ganjil. Selain ukurannya yang tergolong "mini" dibandingkan planet-planet lainnya, garis edarnya yang sangat lonjong juga eksentrik, dimana dalam periode tertentu garis edar Pluto memotong orbit Neptunus menjadikan Neptunus sebagai planet terluar dari tata surya. Pluto juga diketahui memiliki massa yang sangat kecil, kurang lebih hanya 1/400 massa planet Bumi. Tidak heran, beberapa astronom lebih suka menggolongkan objek yang ditemukan oleh Clyde Tombaugh pada tahun 1930 berdasarkan posisi yang diperhitungkan oleh Percival Lowell ini sebagai Objek Kuiper Belt yang terbesar diantara objek-objek sejenisnya. Walaupun masih menyisakan ketidak puasan, "krisis identitas" ini akhirnya mereda ketika pada bulan Februari 1999, The International Astronomical Union (IAU) menetapkan bahwa Pluto tetap digolongkan sebagai sebuah planet.

Kembali kepada Objek Kuiper Belt, objek ini ternyata menyimpan banyak hal yang menarik perhatian para astronom untuk menelitinya. Pada Desember 2000, saat meneliti objek dengan nomor katalog 1998 WW31, astronom Christian Veillet dan dua koleganya menemukan bahwa objek yang ditemukan dua tahun sebelumnya ini memiliki pasangan yang saling mengedari (binary object). Hasil pengamatan menggunakan teleskop Canada-France-Hawaii yang berdiameter 3,6 meter di Hawaii ini telah dipublikasikan akhir April 2001 dalam IAU Circular 7610.

Sementara itu, sebuah objek Kuiper Belt yang dinamai Varuna yang ditemukan pada November 2000 kini diketahui memiliki ukuran yang cukup besar. Dibandingkan dengan diameter Pluto (2.200 km) dan Charon (1.200 km), Diameter Varuna yang sekitar 900 km itu cukup memperkecil "gap" dalam hal ukuran antara Pluto dengan objek-objek Kuiper Belt yang sudah ditemukan sebelumnya yang rata-rata berdiameter hanya sekitar 600 km.

Hal-hal menarik lain berkaitan dengan Kuiper Belt Object diharapkan makin tersingkap saat fasilitas teleskop infra merah yang direncanakan akan diluncurkan oleh pesawat ulang alik pada tahun 2002 mulai beroperasi. Instrumen ini diharapkan dapat memberikan informasi yang lebih akurat mengenai ukuran objek-objek anggota tata surya yang letaknya terbilang jauh.

Belajar Dari Kesalahan

Bila anda melakukan sesuatu, ada kemungkinan anda membuat
suatu kesalahan. Bila anda membuat kesalahan, itu adalah
hal yang hebat. Karena anda berkesempatan belajar sesuatu.

Akui kesalahan anda, teliti dan pelajari secara mendalam.
Jawablah kesalahan anda tersebut. Kesalahan adalah guru
yang luar biasa. Dengan mengenal apa yang salah, anda
dibantu untuk menemukan apa yang benar.

Tom Watson, pendiri IBM, tahu persis nilai sebuah kesalahan.
Suatu saat, seorang pegawai membuat kesalahan besar yang
merugikan IBM senilai jutaan dollar. Sang pegawai yang
dipanggil ke kantor Watson, berkata "Anda pasti menghendaki
saya mengundurkan diri." Jawab Watson, "Anda pasti bercanda.
Saya baru saja menghabiskan 10 juta dollar untuk mendidik
anda..."

Orang yang berbakat sukses, akan belajar dari apapun yang
terjadi, termasuk kesalahan. Bila anda membuat sebuah
kesalahan, hal yang terbaik adalah mengumpulkan kembali
keping-keping yang terserak, dan memperhatikan bagaimana
hal itu bisa terjadi.

Jangan menangisi kesalahan. Periksa dan pelajari kesalahan.
Selanjutnya manfaatkan pengetahuan baru anda itu.

(submitted by anna.maria@s...)


Kegagalan adalah satu-satunya kesempatan untuk memulai lagi
dengan lebih cerdik. (Henry Ford)

Hotel Luar Angkasa


Sebuah inovasi luar biasa akan segera diluncurkan oleh seorang arsitek asal Barcelona Spanyol, Xavier Claramunt. Betapa tidak, ia akan membuat sebuah hotel di ruang angkasa. Hotel mewah yang dinamai Galactic Suite itu akan dihargai selangit. Bagi yang ingin merasakan sensasi menginap di luar angkasa harus merogoh kocek US$ 4 juta atau sekitar 36 miliar rupiah per tiga hari menginap! Namun, biaya itu bagi sebagian orang superkaya pastilah sebanding dengan sensasi yang akan didapat. Bayangkan. Di hotel itu nantinya mereka akan merasakan matahari terbit lima belas kali dalam sehari. Selain itu, para tamu juga bisa merasakan sensasi ruang nol gravitasi sehingga mereka bisa melayang. Namun, untuk mempermudah berjalan, hotel ini juga menyediakan dinding Velcro, yakni dinding lengket sehingga bisa membuat orang dengan mudah berjalan ke ruang lain. Hebatnya, dengan kecanggihan teknologi, para tamu tetap bisa merasakan mandi busa, spa, dan air hangat layaknya di bumi meski berada di ruang nol gravitasi. “Semua benda bisa melayang, tapi kamar mandi beserta bak mandinya tetap tenang di tempat. Inilah keistimewaannya,” ujar Claramunt berpromosi. Hotel ini sendiri rencananya baru selesai dan segera menampung tamu pada tahun 2012. Jika telah menjadi kenyataan, tentu hotel luar angkasa ini menjadi terobosan ilmu pengetahuan yang luar biasa. Namun, bagi kita yang berkantong terbatas, mungkin hanya akan bisa terkagum-kagum dengan teknologi ini. Tapi, tidak tertutup kemungkinan pula hal tersebut justru akan memacu kita mewujudkan mimpi bisa menginap di sana. Siapa tahu? sumber:www.andriewongso.com

Konspirasi di balik "flu burung"

Konspirasi di Balik Flu Burung

Uraian DNA H5N1 asal Indonesia disimpan di Los Alamos National Laboratory New Mexico AS. Laboratorium yang dikontrol Kementerian Energi AS ini dulu digunakan untuk merancang bom atom Hiroshima. Lantas, virus ini untuk vaksin atau senjata kimia?

Oleh Dwi Hardianto

LBH Kesehatan menginformasikan jika ayah almarhum Nasrudin, warga Tangerang yang meninggal akibat terinveksi flu burung (avian influenza) di RS Persahabatan Jakarta, mendaftarkan gugatan terhadap Kedubes AS dan WHO ke PN Jakarta Pusat, Selasa (4/3). Keluarga Nasrudin ingin mengetahui kematian anaknya karena faktor apa, apakah karena senjata biologi AS?

Gugatan ini muncul, sebulan setelah Menteri Kesehatan RI Siti Fadilah Supari meluncurkan bukunya di Hotel Borobudur Jakarta, Rabu (6/2). Buku yang berisi pengalaman langsung selama menangani penyakit pandemik ini terbit dalam dua bahasa, Inggris dan Indonesia. Judulnya, "It's Time for the World to Change, Divine Hand Behind Avian Influenza." Dalam edisi Indonesia berjudul "Saatnya Dunia Berubah. Tangan Tuhan di Balik Virus Flu Burung."

Buku bersampul merah–yang edisi bahasa Inggris–ini beredar luas di AS dan Eropa. AS dan sekutunya langsung berang. Pasalnya, sang menteri membeberkan keberhasilannya menumbangkan ketidaktransparanan WHO dalam mekanisme virus sharing H5N1. Selama 50 tahun terakhir, mekanismenya harus melalui Global Influenza Surveilance Network (GISN) bentukan AS yang tidak ada dalam struktur resmi WHO.

Cardiyan HIS, editor buku ini menuturkan kronologisnya pada Sabili. Perlawanan sang menteri dimulai ketika flu burung mulai menelan korban pada 2005. Saat itu, menkes ”marah” karena kematian tujuh orang warga Tanah Karo, Sumatera Utara, langsung diumumkan oleh WHO melalui CNN sebagai kasus flu burung human to human. Padahal, tidak didahului dengan penelitian DNA korban. Hipotesa menkes saat itu, kasusnya masih animal to animal. ”Ternyata hipotesa ini terbukti benar sampai sekarang,” jelasnya.

Meski begitu, menteri kelahiran Solo, 6 November 1950 ini tetap kelabakan. Tamiflu, satu-satunya obat yang dipercaya bisa mengobati flu burung, harus tersedia. Tapi obat ini justru diborong negara-negara kaya yang tak terkena flu burung. ”Ini tidak adil, negara-negara lemah yang terkena tidak memperoleh apa-apa. Untung saja ada bantuan dari India, Thailand dan Australia,” ujar Menkes kala itu.

Korban terus berjatuhan. Pada saat bersamaan, dengan alasan penentuan diagnosis, Badan Kesehatan Dunia (WHO) melalui WHO Collaborating Center (WHO–CC) di Hong Kong memerintahkan Indonesia menyerahkan sampel spesimen H5N1. Perintah itu diikuti menkes. Tapi, ia juga meminta Laboratorium Litbangkes melakukan penelitian. Hasilnya ternyata sama. Lalu, mengapa WHO–CC meminta sampelnya dikirim ke Hong Kong?

Dalam buku versi bahasa Inggris, menkes menulis, ia terbayang pada korban flu burung di Vietnam. Sampel virus orang Vietnam itu diambil dan dikirim ke WHO CC untuk dilakukan risk assessment, diagnosis dan dibuat seed virus. Dari seed virus ini dibuat vaksin. Ironisnya, pembuat vaksin adalah perusahaan-perusahaan besar dari negara kaya yang tak terkena flu burung. Mereka mengambil dari negara korban dan menjualnya ke seluruh dunia tanpa izin, tanpa kompensasi.

Siti Fadilah pun ”marah”. Ia merasa kedaulatan, hak dan martabat negara-negara berkembang dipermainkan GISN WHO. Badan yang sangat berkuasa ini telah menjalani praktik selama 50 tahun. Badan ini telah memerintahkan lebih dari 110 negara untuk mengirim spesimen virus flu-nya tanpa bisa menolak. Virus menjadi milik mereka dan mereka berhak memprosesnya menjadi vaksin.

Menurut Cardiyan HIS, menkes yang juga ahli spesialis jantung dan pembuluh darah ini cukup cerdik. Meski terpaksa mengirim sample virus ke WHO, pada saat yang sama ia juga mengirim ke Gene Bank, agar hasilnya bisa diakses oleh ilmuwan di seluruh dunia. Tidak seperti GISN WHO yang hanya dihuni 15 ilmuwan eksklusif, empat orang dari WHO dan selebihnya tak dikenal. Ilmuwan dunia menyambut baik keberanian Indonesia. Ini dianggap sebagai revolusi besar.

Saat menkes ragu pada WHO, The Straits Times Singapura (27 Mei 2006) melaporkan, para ilmuwan tidak dapat mengakses data sequencing DNA H5N1 di WHO-CC. Belakangan diketahui, data ini justru disimpan di Los Alamos National Laboratoty di New Mexico, AS di bawah kontrol Kementerian Energi AS. Meski pemerintah AS membantahnya, tapi situs resmi Los Alamos terang-terangan mengakui menyimpan uraian DNA H5N1 asal Indonesia.

Di laboraturium inilah dulu dirancang bom atom Hiroshima. Lantas, virus ini untuk vaksin atau senjata kimia? Siti Fadilah pun tak tinggal diam. Ia minta WHO membuka data itu. Ia berusaha keras agar mekanisme virus sharing diubah menjadi transparan. Hasilnya, pada 8 Agustus 2006, WHO mengirim data itu. Tak berhenti di situ, menkes terus mengejar WHO-CC agar mengembalikan 58 virus asal Indonesia.

Asro Kamal Rokan dalam artikelnya di Republika menulis, 58 virus asal Indonesia konon sudah ditempatkan di Bio Health Security, Lembaga Penelitian Senjata Biologi Pentagon. Meski harus berhadapan dengan adidaya, menkes terus melawan. Ia tak lagi bersedia mengirim spesimen virus yang diminta WHO, selama mekanismenya imperialistik, kapitalistik dan mengancam umat manusia.

Perlawanan menkes tak sia-sia. Meski Siti Fadilah dikecam WHO dan dianggap menghambat penelitian, tapi akhirnya dalam sidang Pertemuan Kesehatan Sedunia di Jenewa, 20 November 2007, International Government Meeting (IGM) WHO, menyetujui mekanisme virus sharing dan membubarkan GISN.

Kini Indonesia ditunjuk oleh World Health Assembly Meeting (forum tertinggi menteri-menteri kesehatan seluruh dunia), untuk membuat konsep virus sharing. Selain melakukan deal dengan Baxter Inc (perusahaan farmasi AS) Indonesia juga akan bekerasama dengan banyak perusahaan termasuk dari dalam negeri seperti, Lembaga Eijkman dan PT Biofarma Tbk yang sudah mampu membuat vaksin.

Tapi, upaya AS dan sekutunya untuk membungkam buku ini tak pernah surut. Meski sudah sebulan berlalu, melalui jalur diplomatik di dalam dan luar negeri, AS terus menekan pejabat-pejabat Indonesia agar menarik buku edisi bahasa Inggris yang beredar luas di AS dan Eropa itu. Beberapa komprador AS di dalam negeri juga terus beraksi, agar buku yang memalukan tuannya ini ditarik. Tapi, Menkes bergeming.

Ia tak gentar menghadapi reaksi keras kaum kapitalis ini. Ia bertekad mempertahankan buku itu agar tetap beredar, apa pun risikonya. “Saya tak akan pernah tarik buku itu dari peredaran. Bahkan, menkes justru akan mencetak ulang dan menerbitkan jilid keduanya. “Selain cetak ulang, saya juga akan segera menerbitkan jilid dua buku ini,” paparnya.

Beberapa pihak juga medukung agar menkes tidak menarik dan merevisi bukunya itu. Dukungan antara lain datang dari Ketua Umum PP Muhhamadiyah Dien Syamsuddin, Ketua Umum PP Nahtlatul Ulama Hasyim Muzadi dan mantan Ketua PP Muhammadiyah Syafiie Ma'arif, ”Siapapun tidak punya hak untuk melarang peredaran buku ini, kecuali buku ini mengganggu ketertiban,” tegas Pimpinan Pondok Pesantren Tebu Ireng Sholahuddin Wahid.

Bahkan, Kepala Badan Intelejen Negera (BIN) Syamsir Siregar, setelah memanggil dan mendengar penjelasan Siti Fadilah juga menyatakan dukungannya. ”Setelah saya jelaskan, BIN bisa menerima bahkan memberi dukungan,” tandas menkes. Demikian juga dengan Menteri Pertahanan dan Keamanan Juwono Sudarsono yang melihat menkes telah memenangkan pertempuran diplomasi internasional.

Sebagai peneliti yang telah lama malang melintang di dunia kesehatan, Siti Fadilah tahu betul, virus bisa dilemahkan, bisa dijadikan vaksin atau dikuatkan menjadi senjata biologi. Data uraian virus tidak mungkin didapat tanpa meneliti virus. Dengan data yang lengkap maka virus dapat direkayasa menjadi senjata biologis. Tidak masuk akal jika laboratorium yang pernah menciptakan bom atom Hirosima, hingga antrax, hanya menyimpan data sequensing, tanpa virusnya.

Indonesia sendiri pernah kecolongan pada kasus virus small pox (cacar). Pada 1974, Indonesia dinyatakan bebas cacar oleh WHO. Karenanya, tahun 1984 WHO datang ke Indonesia untuk memusnahkan virus cacar sekaligus laboratoriumnya di Biofarma Bandung. Sejak saat itu Indonesia tidak lagi memiliki virus cacar. Tiba-tiba pada 2003, WHO mengumumkan adanya senjata biologis dari virus cacar.

“Tahun 2005 Indonesia harus membeli vaksin cacar dari WHO karena ada senjata biologi dari small pox. Yang bikin siapa saya tidak tahu tapi yang punya vaksin adalah perusahan Amerika,” jelas Siti Fadilah. Selanjutnya, seluruh dunia harus membeli vaksin untuk persediaan. Harganya pun super mahal, mencapai Rp 600 milyar. “Pemerintah tidak puya uang. Pengalaman ini tidak boleh terjadi pada flu burung. Kalau menjadi senjata biologi bisa mencelakakan umat manusia,” pungkasnya.

Perempuan Terseksi 2008

Perempuan Terseksi 2008


Siapa perempuan terseksi tahun ini? Menurut hasil polling majalah pria FHM, jawabnya adalah aktris Megan Fox, 21. Bintang film Transformers itu berhasil duduk di posisi puncak daftar 100 perempuan terseksi 2008.

Dia mengambil gelar tersebut dari jawara tahun lalu, aktris Jessica Alba, yang kini melorot di posisi ketiga di bawah aktris dan mantan model Jessica Biel. Di peringkat keempat ada aktris Kanada Elisha Cuthbert. Posisi kelima ialah aktris yang juga tengah merintis karir sebagai penyanyi Scarlett Johansson, 23.

"Megan Fox berhak meraih predikat juara FHM tahun ini. Dia muda, hot, bintang bersinar, dan punya sex appeal yang tinggi. Tidak salah lagi kalau dia menang. Masa depan yang hebat menanti di depannya," kata JR Futrell, editor FHM Online AS.

Fox kali pertama masuk daftar FHM pada 2006 di peringkat ke-68. Tahun lalu, peringkatnya naik sedikit menjadi 65. Bermain dalam Transformers yang berhasil secara box office membuat pamornya melejit.

Yang juga berhasil masuk 10 besar adalah Emmanuelle Chriqui, Hilary Duff, Tricia Helfer, Blake Lively, dan Kate Beckinsale. Di antara daftar FHM tahun ini terdapat nama-nama baru. Salah satunya adalah Victoria Beckham alias Posh Spice. Artis yang sejak tahun lalu pindah ke Los Angeles dari Inggris untuk mengikuti sang suami, pesepak bola David Beckham, tersebut mengawali debutnya dengan duduk di peringkat ke-99.

Nama Britney Spears, 26, yang empat tahun lalu berada di tempat teratas tahun ini sama sekali tidak ada. Jajak pendapat tahunan FHM ke-14 itu diikuti oleh 9 juta pemilih. Selain artis, yang masuk daftar adalah penyanyi, atlet, dan model.

Ular Anang


Ular anang atau ular lanang (Ophiophagus hannah) adalah ular berbisa terpanjang di dunia dengan panjang tubuh keseluruhan mencapai sekitar 5,7 m.[1] [2] Akan tetapi panjang hewan dewasa pada umumnya hanya sekitar 3 – 4,5 m saja.[3] Ular ini ditakuti orang karena bisanya yang mematikan dan sifat-sifatnya yang terkenal agresif, meskipun banyak catatan yang menunjukkan perilaku yang sebaliknya.

Ular anang juga dikenal dengan beberapa nama lokal seperti oray totog (Sd.), ular tedung abu, tedung selor (Kal.) dan lain-lain. Dalam bahasa Inggris disebut king cobra atau hamadryad.


Ular yang bertubuh panjang dan ramping. Sebuah laporan dari Singapura mencatat seekor ular anang sepanjang hampir 4,8 m memiliki berat tubuh hingga 12 kg.[4] Ular jantan cenderung lebih panjang dan besar jika dibandingkan dengan yang betina.

Susunan perisai (sisik-sisik besar) di kepala ular anang
Susunan perisai (sisik-sisik besar) di kepala ular anang

Coklat kekuningan, coklat zaitun, sampai keabu-abuan di bagian atas (dorsal) tubuh, dengan bagian kepala yang cenderung berwarna lebih terang. Sisik-sisik bertepi gelap atau kehitaman, nampak jelas di bagian kepala. Sisik-sisik bawah tubuh (ventral) berwarna keabu-abuan atau kecoklatan, kecuali dada dan leher berwarna kuning cerah atau krem dengan pola belang hitam tak teratur, yang nampak jelas apabila ular ini mengangkat dan membentangkan lehernya. Ular yang masih kecil berwarna lebih gelap atau kehitaman, dengan bintik-bintik putih atau kuning yang membentuk belang (garis) melintang, belang ini masih nampak samar-samar pada sebagian individu dewasa. Anak ular ini berkepala hitam dengan empat garis putih melintang di atasnya.[3][5]

Kepalanya besar dengan moncong yang relatif pendek dan tumpul. Di belakang perisai parietal (ubun-ubun), yang pada ular lain biasanya berupa sisik-sisik kecil, pada ular anang ditempati oleh sepasang perisai oksipital yang besar. Perisai labial (bibir) atas 7 buah, no-3 dan -4 menyentuh mata. Pupil mata bundar dan besar. Sisik-sisik dorsal (punggung) dalam 15 deret di tengah badan. Sisik-sisik ventral (perut) 215–262 buah, sisik anal tunggal, sisik-sisik subkaudal (bawah ekor) 80–120 buah; yang sebelah depan tunggal dan di bagian belakang berpasangan


Mangsa

Sebagaimana namanya (Ophiophagus berarti pemakan ular), mangsa utamanya adalah jenis-jenis ular yang berukuran relatif besar, seperti sanca (Python) atau ular tikus (Ptyas).[2] Juga memangsa ular-ular yang berbisa lainnya dan kadal berukuran besar seperti halnya biawak. Ular anang yang dikurung mau juga memakan daging atau tikus mati yang ditaruh di kandang ular atau digosokkan ke tubuh ular agar berbau seperti ular.[7] Setelah menelan mangsa yang besar, ular anang dapat hidup beberapa bulan lamanya tanpa makan lagi. Ini dikarenakan laju metabolismenya berlangsung lambat.[1]

Ular anang berburu dengan mengandalkan penglihatan dan penciumannya. Sebagaimana ular-ular pada umumnya, ular anang membaui udara dengan menggunakan lidahnya yang bercabang, yang menangkap partikel-partikel bau di udara dan membawanya ke reseptor khusus di langit-langit mulutnya. Reseptor yang sensitif terhadap bau ini disebut organ Jacobson.[1] Jika tercium bau mangsanya, ular ini akan menggetarkan lidahnya dan menariknya keluar masuk untuk memperkirakan arah dan letak mangsanya itu. Matanya yang tajam (ular anang dapat melihat mangsanya dari jarak sejauh 100 m), indera perasa getaran di tubuhnya yang melata di tanah, dan naluri serta kecerdasannya sangat membantu untuk menemukan mangsanya.[8] Ular ini dapat bergerak cepat di atas tanah dan memanjat pohon dengan sama baiknya. Mangsanya, jika perlu, dikejarnya hingga di atas pohon.[9]

Ular anang berburu baik pada siang maupun malam, akan tetapi jarang terlihat aktif di malam hari. Kebanyakan herpetologis menganggapnya sebagai hewan diurnal.[1] Sebagaimana ular kobra yang lain, apabila merasa terancam dan tersudut ular anang akan menegakkan lehernya serta mengembangkan tulang rusuknya sehingga kurang lebih sepertiga bagian muka tubuhnya berdiri tegak dan memipih serupa spatula.[7] Sekaligus, posisi ini akan menampakkan warna kuning dan coret hitam di dadanya, sebagai peringatan bagi musuhnya. Melihat postur tubuhnya ini dan gerakannya yang gesit tangkas, orang umumnya merasa takut dan menganggapnya sebagai ular yang agresif serta berbahaya, yang dapat menyerang setiap saat. Pandangan ini, menurut para herpetolog, terlalu dilebih-lebihkan dan hanya benar sebagian. [3]

Kebanyakan ular anang, seperti umumnya hewan, takut terhadap manusia dan berusaha menghindarinya. Ular ini juga tidak seketika menyerang manusia yang ditemuinya, tanpa ada provokasi sebelumnya. Kenyataan bahwa ular ini cukup banyak yang ditemui di sekitar permukiman manusia, sementara jarang orang yang tergigit olehnya, menunjukkan bahwa ular anang tak seagresif seperti yang disangka.[3][9][7] Walaupun demikian, kewaspadaan tinggi tetap diperlukan apabila menghadapi ular ini. Ular anang dikenal sebagai ular yang amat berbisa, yang gigitannya dapat membunuh manusia. Seperti juga ular-ular lainnya, temperamen ular ini sukar diduga. Beberapa individunya bisa jadi lebih agresif daripada yang lainnya.[3] Demikian pula, pada masa-masa tertentu seperti pada saat menjaga telur-telurnya, ular ini dapat berubah menjadi lebih sensitif dan agresif. Telah dilaporkan adanya serangan-serangan ular anang terhadap orang yang melintas terlalu dekat ke sarangnya.


Bisa ular anang terutama tersusun dari protein dan polipeptida, yang dihasilkan dari kelenjar ludah yang telah berubah fungsi, yang terletak di belakang mata. Tatkala menggigit mangsanya, bisa ini tersalur melalui taring sepanjang sekitar 8–10 mm yang menancap di daging mangsanya. Meskipun racun ini dianggap tak sekuat bisa beberapa ular yang lain, ular anang sanggup mengeluarkan jumlah bisa yang jauh lebih besar dari ular-ular lainnya.[10] Percobaan di laboratorium menunjukkan bahwa satu kali gigitan ular ini dapat mengeluarkan sejumlah bisa yang cukup untuk membunuh 10 orang.[7] Beruntunglah bahwa kebanyakan gigitan ular ini pada manusia hanya memasukkan bisa dalam jumlah yang tidak fatal.[11][12]

Bisa ular ini bersifat neurotoksin, yakni menyerang sistem saraf korbannya, serta dengan cepat menimbulkan rasa sakit yang amat sangat, pandangan yang mengabur, vertigo, dan kelumpuhan otot. Pada saat-saat berikutnya, korban akan mengalami kegagalan sistem kardiovaskular, dan selanjutnya kematian dapat timbul akibat kelumpuhan sistem pernafasan.[10] Apabila bisa telah masuk dalam jumlah yang cukup, kematian hanya dapat dicegah dengan penanganan serta pemberian antivenin (antibisa) yang tepat dan cepat.

Meskipun ular anang memiliki bisa yang mematikan dan kehadirannya ditakuti banyak orang, ia sebenarnya adalah hewan pemalu yang sedapat-dapatnya menghindari pertemuan dengan manusia. [3][13]

Di wilayah sebarannya, masih ada beberapa jenis ular berbisa lainnya yang gigitannya lebih fatal dan lebih banyak memakan korban, di antaranya adalah ular kobra kaca-tunggal (Naja kaouthia), bandotan puspa (Vipera russelli), dan ular welang (Bungarus fasciatus).[14]

Di Burma, ular anang kerap digunakan dalam pertunjukan pawang ular perempuan. Wanita pawang ular itu biasanya memiliki tato yang dibuat menggunakan tinta bercampur bisa ular, yang diyakini akan melindungi dirinya dari ularnya itu. Di akhir pertunjukannya, secepat kilat si pawang akan mencium ubun-ubun ular berbisa yang tengah menegakkan leher dan tudungnya ini.[13]

Kini populasi ular anang di banyak tempat telah terganggu oleh kerusakan habitatnya, terutama oleh hilangnya hutan-hutan yang biasa dihuninya. Meskipun ular ini oleh IUCN belum dimasukkan ke dalam hewan yang terancam kepunahan, CITES telah memandang perlu untuk mengawasi perdagangannya dan memasukkannya ke dalam Apendiks II.

From:wikipedia.org